Yuk Belajar Menghargai Perbedaan dari Pengalaman Gita Savitri di Jerman

-Fera Rahmatun Nazilah-

Kamu pasti kenal Youtuber Gita Savitri Devi, seorang remaja muslimah yang menghabiskan pendidikan S1 nya di Freie Universitt Berlin. Yak, blog dan vlognya asyik kan yak? Ngajakin kita jalan-jalan dan mengenal banyak hal.

Hidup di Jerman yang merupakan negara minoritas muslim tentu memberikan tantangan tersendiri bagi Gitasav. Pernah nggak kamu ngebayangin tinggal jauh dari keluarga dan dikelilingi orang-orang berbeda, dengan agama-agama yang berbeda pula Bagaimana cara berinteraksi dengan mereka dan bagaimana menanggapi orang-orang yang berpandangan buruk terhadap Islam?

“Ternyata hidup sendiri di negara asing itu nggak seindah foto-foto turis Indonesia di Instagram”, tulis Gita di blognya. Meskipun sulit, namun perempuan kelahiran 27 Juli 1992 ini mampu bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda, baik berbeda bahasa, budaya maupun agama. Buktinya sejak 2010 Gita menetap di Jerman dan masih betah aja tuh.

Gita mengaku, ia introvert dan awalnya sangat sulit berinteraksi dengan orang lain, apalagi yang berbeda. Tapi keberangkatannya ke Jerman memaksanya untuk keluar dari zona nyaman. Ya, gadis introvert ini akhirnya harus mulai bersosialisasi dengan orang-orang baru.

“I did find some inspiring people, whom I like to have conversation with. Setiap ngobrol sama mereka gue belajar hal baru, obrolannya positif dan berfaedah, dan yang pasti membantu gue untuk tumbuh,” ungkap Gita dalam blognya.

Perbedaan membuat kita bisa melihat keindahan dunia. Coba deh kamu bayangin gimana jadinya kalau semua bunga warnanya merah, atau semua sayuran berwarna hijau, tentu dunia ini akan terasa membosankan bukan?

Nah, Gita telah merasakan itu loh. Baginya, kehidupan yang datar dan membosankan justru bisa diatasi melalui interaksi dengan orang-orang yang berbeda.

This time I tried to open up to people with different culture. I did really well tho. I went to some event and places alone dan di sana gue kenalan sama orang-orang. Perkiraan gue nggak salah. Beda kultur = beda mentalitas = beda latar cerita. Beda = sesuatu yang baru = bosannya hilang,”lanjut Gita.

Berkenalan dengan orang-orang dari latar belakang berbeda membuat Gita semakin membuka wawasannya. Suatu ketika Gita pernah bertanya kepada kawannya yang bernama Elias,“Pernah nggak lo merasa nggak bisa relate dengan suatu kultur dan merasa sangat asing di tempat tersebut?,”

Lalu Elias menjawab,“Di beberapa tempat di bagian timur Eropa gue merasa orang-orangnya dingin dan kurang ramah. Tapi walaupun begitu, di semua negara yang pernah gue kunjungi, gue selalu bertemu dengan orang-orang yang baik-baik banget, yang ramah, despite stereotip yang ada”.

Pengalaman buruk selama berada di negeri orang tentu saja ada. Gita mengaku pernah diledek “Ni hao Ni hao” karena wajah Asia-nya. Bahkan seorang mahasiswi di Jerman pernah diteriaki “elu teroris pergi sana”.

Namun perlakuan buruk seperti itu tidak sering terjadi. Dalam perbedaan agama misalnya, tidak semua non-muslim memusuhi Islam, kebanyakan dari mereka justru bersikap sangat toleran.

“Kenyataannya Islam di west ga kenapa-napa kok. Islamophobia itu ada, tapi nggak banyak. Itu hanya satu dari jutaan aktivitas yang terjadi dalam satu hari. Aku ga pernah tuh sampai dijambak kerudungnya. Bahkan temen sekelasku pun nggak ada yang nanyain kenapa pakai kerudung, ga pernah juga dipersulit untuk shalat, ga pernah dipersulit untuk puasa atau apapun, ga pernah sama sekali,” tutur ucap Gita dalam vlognya.

Menurut Gita, perlakuan seseorang kepada kita bukan berdasarkan agama yang kita anut, melainkan bagaimana cara kita bersikap. Jika seorang muslim mampu mempresentasikan diri sebagai muslim yang baik, maka orang-orang pun akan memandang bahwa Islam itu baik. Kian sering bertemu dengan orang-orang yang beragam justru akan semakin membuka pikiran kita. Orang-orang yang terbiasa melihat perbedaan akan semakin mudah menerima perbedaan.

Tunjukkan bahwa agamamu adalah agama yang ramah melalui sikapmu. So guys, kamu ga usah ragu untuk berinteraksi dengan kawan-kawan yang berbeda budaya dan agama denganmu, karena perbedaan justru akan membuat hidup kita menjadi semakin berwarna.