“Yang pake jaket bomber dilarang masuk!” “Kemeja biru pulang aja!” Kalimat-kalimat tersebut tak jarang kita dengar menginjak musim pemilu ini. Penggunaan jaket bomber itu diidentikkan dengan pendukung kubu pasangan calon 01 dan penggunaan kemeja biru diidentikkan dengan pendukung kubu pasangan calon 02. Lalu, bagaimana bila kita menggunakan kemeja biru yang dilapisi oleh jaket bomber? Apakah kita dianggap golput karena tidak mampu menentukan pilihan?

        Banyak hal lucu dan tereksan tidak masuk akal yang diperdebatkan selama musim pemilu ini. Hal-hal sepele yang seharusnya tidak terlihat, mengalami peningkatan kasta bahkan menjadi bahan perdebatan yang menimbulkan perpecahan. Contohnya, penggunaan busana. Sebelum memasuki musim pemilu, penggunaan jaket bomber dan kemeja biru merupakan hal yang sah sah saja bagi semua kalangan. Namun, saat memasuki musim pemilu, penggunaan jaket beomber dan kemeja biru telah berubah menjadi identitas bagi suatu golongan.

                 Saat kita memasuki lingkungan yang mayoritas pengguna kemeja biru dan kita menggunakan jaket bomber, mereka secara tidak langsung akan menerima indikasi bila kita tidak sekubu dengan mereka dan akan mengusir kita baik secara langsung maupun tidak langsung dari lingkungan mereka. Padahal, kita menggunakan jaket bomber karena cuaca pada saat itu sedang dingin. Berbahaya, bukan?