Ini lima Ulama Perempuan Hebat yang Peran dan Ilmunya Diakui Dunia

Fera Rahmatun Nazilah

Pernah nggak kamu mendengar ungkapan-ungkapan seperti “Perempuan ga usah sekolah tinggi-tinggi, nanti juga balik ke dapur” atau “perempuan itu fitnah, jadi nggak boleh tampil di depan laki-laki!” dan lain sebagainya.

Hmmm.... Ternyata hal itu tidak benar loh. Buktinya Indonesia mampu melahirkan ulama perempuan hebat yang bisa mengalahkan keilmuan laki-laki. Nah ini dia para ulama perempuan Indonesia:

Rahmah el-Yunusiah

Beliau adalah pelopor pendidikan perempuan di Indonesia loh, Gaes. Ulama ini lahir di Padang Panjang, 20 Desember 1900 ini dan telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk mengelola dan mengembangkan lembaga pendidikan seperti Menjesal School untuk kaum ibu yang belum bisa baca-tulis, Junior School (setingkat HIS), hingga Diniyah School Putri (sekolah tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah), kulliyat al-Mu’allimat al-Islamiyah (untuk mendidik calon guru), perguruan tinggi fakultas Tarbiyah dan Dakwah, dan sekolah tenun.

Di masa itu pendidikan memang tidak mudah ditempuh, apalagi untuk seorang perempuan. Perempuan hanya dianggap sebagai penghuni kasur dan dapur yang tak layak mendapatkan pendidikan. Beliau gigih banget memperjuangkan pendidikan untuk perempuan, bahkan ditempatkan sejajar dengan tokoh nasional seperti Kartini dan Dewi Sartika.

Prof. Dr. Zakiah Daradjat

Beliau adalah psikolog, mubaligh sekaligus pendidik yang lahir di ranah Minang, pada 6 November 1929. Beliau ini sosok yang selalu haus akan ilmu hingga ia profesor perempuan. Sosoknya menjadi penting karena menjadi yang awal-awal mendapatkan gelar Profesor dan menjadi inspirasi dari kini. Wah....

Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, MA

Nah, kalau beliiau ini ahli hukum islam, Gaes, khususnya pakar fikih perbandingan madzhab. Perempuan kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 30 Desember 1946 ini tercatat sebagai rektor  Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) dan guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Meskipun telah menyabet segudang prestasi, kewajiban-kewajiban sebagai ibu rumah tangga tetap dijalaninya loh. Menurutnya, perempuan boleh memasuki berbagai profesi, apa pun yang kalian mau. Asalkan tetap belajar. Yuukkkk..

Prof. Dr. Nabilah Lubis, MA

Nabilah Lubis merupakan perempuan kelahiran Kairo, 14 Maret 1942. Alumnus Fakultas Sastra Cairo University ini mendapatkan kewarganegaraan Indonesia pada 1964 dan menikah dengan pria asli Tapanuli Selatan, H. Burhanuddin Umar Lubis. Beliau awal tahun ini bahkan dipercaya sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah, perempuan pertama yang jadi rektor loh.

Bu Nabilah juga berhasil menghapuskan pemikiran “Perempuan tidak boleh berdakwah di muka umum”. Buktinya, ia menjadi perempuan pertama yang berceramah di masjid Istiqlal, di hadapan ratusan jamaah dan para petinggi negara, ditayangkan di layar televisi Indonesia. Padahal ketika itu, masih risih rasanya bila seorang perempuan menasihati laki-laki secara massal di masjid.

Tutty Alawiyah

Jika ulama-ulama sebelumnya terkenal dengan kegigihan di bidang keilmuan, Tutty Alawiyah dikenal melalui kontribusinya di bidang sosial keagamaan. Perempuan kelahiran 30 Maret 1942 ini memiliki basis massa yang begitu banyak, yang terorganisir dalam wadah badan Kontak Majelis Taklim (BKMT).

Ada kisah yang menarik dari Tutty, beliau pernah diajak ayahnya berdakwah di negeri Jiran. Dalam suatu kesempatan, ia diminta berceramah di muka umum, padahal usianya baru 16 tahun. Saat telah naik ke mimbar, naskah pidato yang telah disiapkannya hilang, tak mungkin untuk turun dan mencari naskahnya. Ia pun berdoa “Ya Allah, kalau Engkau ingin saya berdakwah, sekaranglah waktunya”. Dan ternyata, ia mampu berpidato dengan lancar tanpa naskah.

Lima perempuan tersebut mampu membawa citra perempuan yang berprestasi, jadi ingin jadi kayak mereka nggak nih?