Ini Tujuh Ciri-Ciri Hoaks Yang Harus Kamu Ketahui

Fera Rahmatun Nazilah

Kata hoax semakin terdengar familiar beberapa tahun terakhir ini, terlebih ketika internet sudah banyak digunakan dan media sosial semakin berkembang. Hoax berasal dari kata “hocus pocus” yang merupakan bahasa latin dari “hoc est corpus”, artinya “ini adalah tubuh”. Kata ini biasa digunakan oleh pesulap yang ingin menunjukkan suatu trik.

Kata hoax semakin populer setelah film berjudul “The hoax” dirilis pada 2006. Popularitas film ini membuat orang-orang menggunakan judul tersebut untuk menyebutkan sebuah kabar bohong atau palsu.

Hoax kemudian mulai diartikan sebagai sebuah pemberitaan palsu yang bertujuan untuk menipu atau memengaruhi pembaca atau pendengar agar mempercayai sesuatu. Kata hoax juga mulai diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks diartikan sebagai kabar bohong.

Tujuan hoaks beragam, ada yang hanya sekedar iseng atau lelucon, ada pula yang bertujuan untuk memfitnah seseorang, bahkan menjadikannya sebagai alat propaganda untuk menyebarkan kepentingan-kepentingan suatu golongan.

Hoaks memang tidak selalu berdampak negatif, namun tak jarang bisa sangat merugikan. Bahkan dalam skala besar hoax dapat memecah belah Indonesia. Hoaks sebenarnya sudah lahir ribuan tahun lalu, bahkan pernah menimpa Aisyah, istri Rasulullah Saw. Ketika itu hoaks mampu membuat galau keluarga Rasulullah Saw. Bahkan rumah tangga Rasulullah Saw dan Aisyah nyaris kandas diterjang hoax.

Hoaks juga pernah menghebohkan masyarakat Indonesia, misalnya kasus hoaks yang dibuat Ratna Sarumpaet dan Young Lex yang mengaku dipukuli orang-orang, kasus hoaks tentang gempa susulan di Palu, dan berita-berita hoaks antara dua kubu politik yang saling menyerang.

Duh capek yah hidup dikelilingi dengan hoaks. Nah kamu sendiri sudah bisa membedakan berita hoaks dan berita asli belum? Kalau belum yuk kita kenali ciri-ciri hoaks. Dalam jurnal berjudul “Hoax Sebagai Bentuk Hudud dalam Islam” Muhammad Arsad Nasution menyebutkan tujuh ciri-ciri kabar hoaks, diantaranya:

Pertama, ada anjuran agar pesan tersebut dikirimkan kepada orang lain. Semakin mendesak permintaannya, maka pesan tersebut semakin mencurigakan. Misalnya kalimat “Sebarkan ke semua grup yang Anda punya!” “Sebarkan dan jangan berhenti di Anda!”, “Jika Anda tidak menyebarkan berita ini, maka musibah akan menimpa Anda” dan berbagai kalimat lainnya yang sangat persuasif.

Kedua, penggunaan tata bahasa kurang sempurna, misalnya tanda seru yang berlebihan, penggunaan huruf kapital yang kurang tepat, gaya bahasa yang terlalu berempati, dll. Ketiga, tidak ada berita lain yang mendukung pesan tersebut. Keempat, pesan tidak logis, tidak konsisten dan bertentangan dengan akal sehat.

Kelima, tidak menyebutkan kenyataan yang dapat dibuktikan dengan fakta-fakta. Keenam, pesan berantai, yaitu pesan yang telah difoward berkali-kali sebelumnya, hingga akhirnya sampai kepada kita. Ketujuh, pembuat hoaks biasanya mencoba segala cara agar pesannya dapat dipercaya, misalnya dengan menghubungkan ke sumber resmi yang sebenarnya palsu.

Misalnya pesan yang menyatakan bahwa kamu memenangkan undian. Pemberi pesan seringkali mencantumkan alamat website yang terlihat seperti asli, namun sebetulnya itu adalah website palsu yang ia buat sendiri.

Nah, coba diingat-ingat apakah kamu pernah menerima pesan seperti ini? Kalau pernah mungkin itu adalah berita palsu atau hoaks. Mulai sekarang yuk rajin mengkroscek sebuah berita. Jangan sampai terpengaruh oleh berita hoaks, apalagi sampai menyebarkannya. Mendengar janji-jani palsu dari si dia aja ga enak, apalagi sampai jadi korban hoaks, duh nggak banget dong ya.