Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau dengan jumlah populasi lebih dari 267 juta jiwa pada tahun 2019 ( survei penduduk antar sensus ) terdiri atas 1.340 suku bangsa, terdapat 6 agama resmi yang diakui oleh  negara dan memiliki 546 bahasa daerah dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Kebinekaan yang ada di Indonesia merupakan sebuah anugerah yang harus kita syukuri bersama agar kebinekaan tersebut menjadikan negara kita negara yang hebat dengan sejuta keanekaragaman yang ada. Oleh karena itu dalam filosofi hidup bangsa Indonesia kita mengenal yang namanya “ BHINEKA TUNGGAL IKA “ yang memiliki makna sangat mendalam bagi bangsa Indonesia. Semboyan ini tidak bisa dianggap hanya sekedar semboyan saja, namun itu harus kita hayati bersama agar ini menjadi senjata buat bangsa Indonesia dalam menghadapi keberagaman yang ada.

Dan berbicara mengenai keberagaman tidak bisa kita lihat hanya dalam konteks yang luas saja, namun pada realita yang ada keberagaman memang ada  pada setiap sudut tidak terkecuali masalah jurusan yang ada di sekolah.  Jurusan nantinya yang akan menentukan kehidupan kita dimasa yang akan datang. Namun, terkadang  masih banyak orang yang salah menentukan jurusan dan akibatnya akan fatal. Seperti yang kita ketahui dalam jurusan yang ada di sekolah, jurusan yang sering mengalami kesenjangan ialah antara IPA dan IPS.

Dua jurusan yang tidak bisa dipisahkan. Anak IPA disebut-sebut sebagai anak yang jenius, bisa menyelesaikan masalah dan dipandang lebih baik dari anak IPS. Namun bagaimana dengan anak IPS ? Sama halnya dengan anak IPA, anak IPS juga pandai, jenius dan bisa menyelesaikan masalah dengan baik dalam bidangnya yang menyangkut sosiali dengan masyarakat. Namun dalam realitanya, pandangan anak ips selalu di kaitkan dengan prilaku yang kurang baik. Dan tak jarang banyak orang mengatakan bahwa anak IPA jauh lebih hebat dari pada anak IPS, bahkan terkadang orang tua memaksakan anaknya untuk memilih jurusan IPA karena menganggap anak jurusan IPA lebih baik, tak jarang pula anak -anak yang masuk jurusan IPS dipandang sebelah mata di masyarakat. Perlu kita ketahui bersama bahwa tidak semua anak-anak IPS berperilaku buruk, akan tetapi banyak faktor yang dapat menentukan perilaku seseorang diantaranya yaitu faktor lingkungan, keluarga dan pergaulan.

Lalu jika begitu masih pantaskah anak IPS dianggap sebagai jurusan yang tidak baik dan tidak bisa menjamin masa depan? Tidak sepantasnya para orang tua memaksakan anaknya memilih jurusan IPA hanya karena alasan “ masa depan “ para orang tua juga harus memperhatikan kemampuan anaknya. dan seharusnya kesenjangan anak IPA dan IPS tidak pernah ada karena pada hakikatnya setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda.