Kisah Agus Salim dan Adiknya yang Beragama Katolik

M. Nauval Waliyuddin

 

Tahukah sosok KH. Agus Salim? ia adalah salah satu pahlawan Bangsa loh dan salah seorang tokoh muslim berpengaruh, Menteri Luar Negeri pertama Indonesia. Kepandaiannya dalam berdiplomasi dan kepiawaiannya berbahasa asing mendaptkan julukan “The Grand Old Man”.

Agus Salim memiliki sifat jenaka dan disukai banyak orang di seluruh dunia dan sering  mewarnai forum-forum penting kenegaraan. Sosoknya kharismatik, tegas dan penuh wibawa tapi sekaligus ramah dan bersahaja.

Dalam urusan keagamaan, Agus Salim tipe orang yang toleran dan berjiwa besar. Bahkan dalam keluarganya sendiri, ada satu anggota keluarga kandungnya yang berpindah agama. Dialah sosok adik kandungnya sendiri, Chalid Salim.

Adik H. Agus Salim lahir pada 24 November 1902 dan merupakan seorang yang kritis. Belakangan, diketahui bahwa adik Agus Salim tersebut telah memeluk ajaran Katolik sebagai agamanya.

Pernah suatu ketika H. Agus Salim ditanya oleh seorang Belanda, “Zeg Salim, bagaimana itu, adik Anda masuk agama Katholik?”

God zij dank, Alhamdulillah, ia sekarang lebih dekat dengan saya,” jawab Agus Salim dengan ringan.

Orang Belanda itu pun keheranan, lalu bertanya kembali, “Kenapa Anda malah berterima kasih kepada Tuhan?”

Haji Agus Salim tersenyum lantas menguraikan penjelasannya. “Dia dulu kan orangnya tidak percaya Tuhan, sekarang dia percaya Tuhan,” tuturnya tanpa beban.

Pilihan yang diambil Chalid Salim ternyata tidak dipermasalahkan oleh sanak keluarganya. Dalam suatu kesempatan dahulu, sewaktu H. Agus Salim berkunjung ke Belanda, ia menemui adiknya dengan sukacita. Ia mengungkapkan kegembiraannya kepada Chalid.

“Aku bersyukur bahwa kau akhirnya percaya pula kepada Tuhan. Dan pilihanmu itu tentu sudah menjadi takdir ilahi,” ujar H. Agus Salim kepada adik kandungnya.

Dari cuplikan kisah tokoh bangsa kita di atas, menunjukkan betapa pentingnya bagi kita untuk saling menghargai keputusan orang lain dengan tanpa menghakiminya secara tidak adil. Setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya. Toleransi dan saling menghormati lah yang mampu menyambungkan tali persaudaraan antar-sesama manusia.