Kisah Toleransi Dua Ulama, Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah

Miftahuzzakiyah

 

Hayo, siapa nih yang masih enggak mau toleransi? Nah, di sini kita akan belajar toleransi dari kisah Imam Mazhab, yaitu Muhammad bin Idris atau dikenal luas dengan nama Imam Syafi’i. Kira-kira, bagaimana ya ceritanya?

Suatu hari, di Baghdad tanggal 14 Juni 767 M, Nu’man bin Tsabit atau Imam Abu Hanifah meninggal dunia. Imam Abu Hanifah meninggal di usia 68 tahun. Beliau terserang suatu penyakit yang semakin lama semakin parah. Di hari meninggalnya, penduduk Kufah sangat merasa kehilangan.

“Cahaya ilmu di Kufah telah sirna, kini mufti di Irak telah tiada,” Begitulah ungkapan rasa sedih dan kehilangan dari masyarakat Irak.

Sekitar lima puluh ribu manusia menyolati jenazah Imam Abu Hanifah, jasad beliau dipanggul oleh lima muridnya dan dimakamnya setelah ashar. Banyak ulama yang memuji kecerdasan beliau. Seperti Imam Malik, beliau mengatakan,“Subhanallah, saya belum pernah melihat sosok seperti dia, jikalau ada seorang yang minta penjelasan bahwa tiang kayu ini terbuat dari emas, maka ia akan menjelaskannya secara rinci”.

Tidak hanya Imam Malik, Imam Syafi’I juga pernah memuji Imam Abu Hanifah, “Sesiapa yang ingin memperdalam ilmu Fikih, maka bergurulah pada Imam Abu Hanifah”.

Keduanya ternyata ulama besar dan berbeda mazhab, namun tidak menghalangi Imam Syafi’I untuk berziarah ke makam Imam Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah dimakamkan di Masjid Abu Hanifah, Irak. Tujuh hari lamanya Imam Syafi’I berziarah di sana. Hal menakjubkan lagi yaitu selama tujuh hari berziarah Imam Syafi’I terus-menerus menghatamkan al-Qur’an. Tilawah tersebut Imam Syafi’I niatkan dan hadiahkan untuk Imam Abu Hanifah. masyaAllah...

Menariknya, Imam Syaf’I yang terkenal dengan mazhab syafi’I, dan menyaratkan adanya do’a qunut dalam salat subuh, sedangkan mazhab Hanafi tidak demikian, hal tersebut lagi lagi tidak menghalangi Imam Syafi’I untuk menghargai pendapat dan ijtihad Imam Abu Hanifah.

Lantas, apa yang dilakukan oleh Imam Syafi’i? iya, di makam Abu Hanifah, selama tujuh hari dan di setiap salat subuh, Imam Syafi’I tidak melakukan qunut. Dengan bijak Imam Syafi’I mengatakan:

Sebab Abu Hanifah tidak menghukumi qunut ke dalam bentuk sunnah, maka saya pun tidak melakukannya sebagai bentuk penghormatan kepadanya”

Toleransi dalam islam itu tasamuh dan penting untuk ditanamkan dalam diri dan diterapkan dalam kehidupan. Batasan toleransi adalah dalam hal kepercayaan, akidah. Selebihnya adalah dianjurkan. Apalagi dalam hal muammalah.

Yuk ah, mulai saling menghargai. Imam Mazhab aja toleransi, masa kita enggak ?