“namanya juga negara berflower.

      “Kebiasaan negara +62 ya gitu”

      Gurauan-gurauan itu tentu sering kita dengar dalam perbincangan sehari-hari, apalagi di dalam aktivitas dunia maya. Gurauan tersebut biasnya menjurus pada kelakuan-kelakuan aneh dan konyol penduduk Indonesia yang terkadang tak dapat dicerna nalar. Tak jarang, keanehan tersebut dikaitkan dengan pendidikan yang berjalan di Indonesia yang selalu dipandang sebelah mata.

      Sadar atau tidak, persepsi khalayak menganai pendidikan di Indonesia mempengaruhi jalannya pendidikan itu sendiri. Mereka yang bersuara tentang kemunduran, kemerosotan, keterpurukan pendidikan Indonesia menggiring opini khalayak lain untuk berpikiran sama dan skeptic akan kemajuan pendidikan di Indonesia.

      Padahal, saat mereka membualkan kemunduran pendidikan di Indonenesia, ada ratusan bahkan ribuan masyarakat Indonesia yang memperjuangkan dan membawa nama baik pendidikan Indonesia hingga di kancah Internasional. Dengan susah payah segenap tenaga mereka harumkan, dengan naasnya ditepis oleh pemikiran pesimistis.

      Kita sebagai tokoh muda, mengemban peran, membawa tonggak emas guna menyongsong kemajuan pendidikan Indonesia 20 tahun mendatang. Daripada sibuk membual tentang pergerakan yang stagnan, kenapa tidak kita buat sendiri pergerakan itu? Membudayakan literasi, membudayakan tepat waktu, dan melakukan pengembangan karakter untuk menyeimbangkan kemampuan akal yang kita miliki.

      Langkah besar tersusun dari ribuan langkah kecil yang saling bersinergi. Mari kita wujudkan kemajuan pendidikan, perlahan tapi pasti. Semua dilakukan dengan #mulaidarikita. (jash)