Ini Tiga Muslimah yang Mendirikan Pendidikan Islam di Indonesia

Fera Rahmatun Nazilah

Jadi, Gaes, dalam sejarah ada muslimah yang berperan aktif memperjuangkan pendidikan untuk anak bangsa. Tidak tanggung-tanggung, mereka juga mendirikan lembaga pendidikan dengan jerih payah mereka sendiri. Di antaranya:

Rahmah el-Yunusiah

Rahmah el-Yunusiah adalah pelopor pendidikan perempuan di Indonesia. Muslimah kelahiran Padang Panjang, 20 Desember 1900 ini telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk mengelola dan mengembangkan lembaga pendidikan.

Ia berhasil membangun berbagai lembaga pendidikan Islam untuk perempuan, diantaranya lembaga untuk pendidikan al-Qur’an, Menjesal School untuk kaum ibu yang belum bisa baca-tulis, Junior School (setingkat HIS), hingga Diniyah School Putri (sekolah tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah), kulliyat al-Mu’allimat al-Islamiyah (untuk mendidik calon guru), perguruan tinggi fakultas Tarbiyah dan Dakwah, dan sekolah tenun.

Keberhasilan Rahmah dalam mengelola Perguruan Diniyah putri menarik perhatian Rektor Universitas al-Azhar Cairo, Dr. Syaikh Abdurrahman Taj. Bahkan nih, Pada 1955 ia bahkan mengadakan kunjungan khusus ke perguruan tinggi ini. Pada saat itu, Universitas al-Azhar belum memiliki lembaga pendidikan khusus untuk perempuan. Maka, ia pun mempelajari sistem pendidikan Diniyah Putri dan menerapkannya di Cairo. Hingga kemudian berdirilah Kulliyat al-banat sebagai bagian dari Universitas al-Azhar Cairo.

Rahmah kemudian dianugerahi gelar Syaikhah oleh Universitas al-Azhar Cairo. Orang-orang bahkan memberikan Rahmah gelar “Kartini dari Perguruan Islam” dan “Kartini Gerakan Islam”

Zakiah Daradjat

Zakiah Daradjat adalah seorang psikolog, mubaligah sekaligus pendidik yang lahir di ranah Minang, pada 6 November 1929. Zakiyah merupakan pakar psikologi Islam yang juga memusatkan perhatian pada pendidikan.

Pemikiran Zakiah dalam bidang pendidikan agama banyak memengaruhi sistem pendidikan di Indonesia. Zakiah mempelopori kebijakan pembaruan madrasah dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri (Menteri Agama, Mendikbud dan Mendagri). Melalui SKB tersebut, kurikulum madrasah tidak lagi berisi pengetahuan agama 100%, melainkan 70% pengetahuan umum dan 30% pengetahuan agama. Aturan tersebut memungkinkan lulusan madrasah berbagai jenjang dapat diterima di sekolah maupun perguruan tinggi umum.

Tidak hanya itu, sebagai realisasi ide-idenya dalam bidang pendidikan yang berkaitan dengan kesehatan mental. Zakiah mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Ruhama di kawasan Tangerang Selatan. Lembaga ini melingkupi Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Meskipun Zakiah telah wafat pada 2013, yayasan pendidikan ini masih tetap berdiri dan semakin berkembang hingga kini.

Nonoh Hasanah

Nonoh Hasanah merupakan perintis pesantren putri di Jawa Barat. Ia lahir pada 1938 dari pasangan KH.M. Syamsudin dan Hj.Qamariyah. Sejak usia 12 tahun, Nonoh mulai mendalami ilmu agama di pesantren Cipasung. Dari pesantren Cipasung itu juga Nonoh bertemu dengan jodohnya, Ahmad Dimyati.

Bersama Ahmad Dimyati beliau merintis pesantren dimulai. Ahmad Dimyati adalah anak dari KH.Dimyati, pendiri pesantren Cintapada, Tasikmalaya. Pesantren ini didirikan pada 1918 dan tetap eksis hingga 1947, namun akibat agresi militer Belanda I dan II, kondisi kawasan itu tak menentu, sehingga sang kiai seringkali berpindah-pindah tempat, dan pesantren itu akhirnya tidak dapat bertahan.

Delapan tahun kemudian barulah pesantren ini dihidupkan kembali oleh KH. Yusuf Faqih, cucu KH. Dimyati. Pada 25 Desember 1959, Ahmad Dimyati dan Nonoh datang ke pesantren peninggalan orangtuanya ini.

Nonoh dan suaminya bermaksud untuk membuka pesantren untuk putri. Setelah dilakukan musyawarah keluarga, maka KH. Yusuf Faqih dan para santrinya pun pindah ke lokasi baru. Sedangkan Nonoh dan suami menempati lokasi lama dan mendirikan pesantren baru untuk putri dengan nama Pesantren Putri al-Hasanah Cintapada.

Kini, nama beliau abdai sebagai muslimah berpengaruh dan pendiri pesantren-pesantren putri di Jawa Barat. Inspiratif.

Tiga muslimah tersebut telah berjuang dan menghabiskan usianya untuk mendirikan yayasan pendidikan bagi anak-anak bangsa. Ke depannya, semoga akan semakin banyak lagi pendidik-pendidik muslimah yang menebarkan keilmuan Islam melalui pendidikan.