Perkenalkan aku Chandra, murid kelas 2 SMA. Aku menjabat di
organisasi sebagai ketua bidang pecinta alam. Peranku di organisasi
sangat krusial dalam menjaga alam di sekitar sekolah. Berbagai
kegiatan untuk menunjang kelestarian dan keasrian sekolah seperti
kerja bakti, seminar, tanam pohon, dan masih banyak yang lainnya.
Benar kata pepatah “Tiang yang menjulang pasti akan di terpa angin
yang kencang”. Niat dan kegiatan yang ikhlas mulai merasa tidak
nyaman dengan kata-kata umpatan yang diarah ke bidang pecinta
alam. Bagaimana tidak merasa, setiap kami kerja bakti di hari sabtu
pastilah kami di ejek “Pengganti mak eem” (nama petugas kebersihan)
atau “Oh ini manusia sampah”. Diriku merasa kesal karena melihat
anggota yang baru masuk menjadi malu dan enggan kerja bakti lagi,
bukan kesal karena umpatan-umpatan dari murid yang lain. Ketika kerja
bakti kembali, diriku semakin panas dan akhirnya melancarkan tinju
kepada murid kelas 10 yang memprovokasi setiap kami melakukan
kerja bakti. Aku dipanggil ke ruang bk bersama orang yang ditinju oleh
diriku dan diriku di beri keringanan hukuman yang tadinya di skors
menjadi membersihkan seluruh wc sekolah. Setelah pemberian
hukuman selesai, aku diajak berdiskusi dengan guru bk tersebut.
“Mengapa kamu melakukan hal tersebut?” dan aku menjawab “Karena
saya selalu kesal dengan kata-kata mengejek seperti itu pak, saya telah
membantu sekolah untuk selalu terlihat asri, tapi rasa sayang saya
malah di ejek seperti itu”. Guru bk menjawab “ohh seperti itu.., kamu
kenal tan malaka?” aku yang heran menjawab dengan polos “tan
malaka pak? Saya baru denger nama itu pak” guru bk langsung
berbicara lagi “kamu pun tidak tau siapa tan malaka, kamu malah lebih
hina dari orang yang telah mengejekmu. Tan malaka adalah pejuang

kemerdekaan Indonesia di bidang buruh. Tan sangat keras dalam
menentang penjajah hingga dia sampai bisa memobilisasi masa buruh
yang banyak di jawa timur untuk mogok kerja kepada belanda. Tan pun
menjadi orang yang di sebut oleh presiden soekarno sebagai ‘presiden
Indonesia jika saya tidak menerima tawaran kaum muda’.” Mendengar
itu saya langsung terkejut sambal menahan malu di dada karena telah
melupakan para pahlawan bangsa dan saya tersadar bahwa banyak hal
yang telah di korbankan tetapi tidak pernah mendapat balasan yang
indah.


Ini menjadi pelajaran bagi kita sebagai bangsa Indonesia yang masih
selalu belajar dari keperihan dan kerapuhan para pahlawan bangsa
yang kita pun tidak kenal nama mereka satu per satu. Rasa sayang
mereka sangat ikhlas dan tidak butuh nama mereka di ingat oleh para
penerusnya yang sekarang malah santuy rebahan (baca: males-
malesan) seakan-akan tidak menghargai jasa mereka sebagai
pahlawan. Rasa sayang kita pun kadang tidak berbalas, maka tujuan
kita menyangi Indonesia bukan untuk di balas dengan sebuah
penghargaan dan lain-lain, tetapi tujuan kita harus tulus karena
Indonesia sudah sudi menjadi tempat dilahirkannya diri kalian di bumi
ini.

School : Ma'had Darul Arqam Muhammadiyah Garut
Mading Team : Fauzan Firdaus
Published on 10/02/20