Halo teman! Di negeri kita Indonesia ada banyak sekali tarian tradisional, salah satunya adalah Tari Kabasaran! Tari Kabasaran adalah tarian tradisional dari Minahasa,Sulawesi Utara. Tari Kabasaran adalah tari perang yang bercermin dari sejarah perang bangsa Minahasa pada masa lampau. Kabasaran berasal dari kata dasar “wasal” yang berarti ayam jantan yang merupakan simbol keberanian dan kejantanan. Tari Kabasaran ini ditampilkan oleh beberapa penari pria yang berpakaian prajurit Minahasa dan bersenjatakan tombak dan pedang untuk menari. Seorang penari Kabasaran harus berasal dari ke
luarga keturunan penari kabasaran sesuai dengan adat dan tradisi Minahasa secara turun temurun, selain itu senjata yang dipakai oleh penari Kabasaran juga merupakan warisan turun temurun yang diwariskan oleh para penari Kabasaran sejak dulu. Kata Kabasaran ini berasal dari istilah “kawasalan”, setelah mendapat pengaruh bahasa melayu yang berkembang maka huruf “W” berubah menjadi “B” sehingga “kawasalan” menjadi “kabasaran”. Kostum prajurit pada pertunjukan Tari Kabasaran didominasi warna merah yang melambangkan keberanian,  pada bagian luar menggunakan sejenis rompi dengan rumbai-rumbai dari kain dan kulit kayu. Pada bagian kepala menggunakan penutup kepalaa yang khas  berbentuk paruh burung dan dihiasi dengan bulu, juga ada tengkorak kepala sebagai aksesoris.
Tari Kabasaran sekarang banyak ditampilkan pada acara penyambutan dan acara-acara adat, yang menarik jika kita menghubungkan penggunaan tari Kabasaran pada masa sekarang sebagai tari penyambutan dengan cerminan sejarah perang bangsa Minahasa seperti pada masa dahulu Suku Minahasa berperang jika ada gangguan dari luar, misalnya saat Suku Minahasa mendapat serangan dari “tamu-tamu” seperti Kerajaan Bolaang Mongondow,Portugis,Inggris,dan Belanda. Kita melihat sebuah tradisi “perang” yang dahulu untuk menyambut “tamu” dengan senjata dan amukan sekarang digunakan sebagai penyambutan “ramah ramah” dan “hiburan”. Hal ini menunjukan suatu perkembangan sebuah bangsa dimana suatu hal yang berhubungan dengan kekerasan dan kekacauan diubah sebagai sebuah simbol penyambutan dan perdamaian.
Tarian Kabasaran memperlihatkan sebuah konversi makna tradisi yang besar yang memperlihatkan kedewasaan suatu bangsa yang menggunakan sebuah tradisi yang berkaitan dengan pertengkaran dan perseteruan yang berlatar sejarah berdarah dalam mempertahankan tanah air dari para “tamu nakal” menjadi sebuah tradisi penyambutan yang menunjukan sikap ramah dan toleran terhadap “tamu” dan juga hiburan penuh makna yang disaksikan oleh masyarakat. Atribut penari yang menakutkan bukan lagi sebagai pengintimidasi para musuh, pedang bukan lagi sebagai penusuk dan pembelah tubuh lawan, semuanya itu telah menjadi komponen seni yang luar biasa dan membawa sebuah arti damai pada masyarakat. Tradisi ini adalah sebuah tanda perubahan sebuah masyarakat dengan tradisi dimana membawa sebuah arti baik tanpa melupakan sejarah dan identitas sebuah bangsa.


-Nathan Rumondor